Langsung ke konten utama

Merinduinya

4 tahun dan 7 bulan sudah saya berada disini. Di kota Pelajar yang penuh dengan keramahan, tamah dan santun.
Disini saya kuliah, pernah bekerja sebagai pro, relawan (kader). Ya mungkin itu sebagai tambahan di proposal hidupku saja untuk Allah. :)

Saya menikmati begitu banyak panorama alam dan karya manusia di kota yang kental dengan budaya ini. Entah saya merasa nyaman (sampai hari ini) di kota ini.


4 tahun dan 7 bulan lalu ketika saya menginjakkan kaki di kota ini, saya melihat, saya mendengar, saya merasakan aura luar biasa kota ramah tanpa pencakar-pencakar langit seperti hendak mencengkram bumi ini.Dan saya mengaguminya, kota tanpa gedung penghalang langit.

Tapi hari ini, entah kenapa hati ini sakit, melihat kota ini semakin maju. Bukan lagi maju karna makin indahnya. Tapi karna banyaknya gedung mencakar langit yang menghalangi kita menatap langit. Saya jadi merasa ada yang hilang disini.

Walaupun nama jawa menghiasi nama bangunan megah nan mewah mencakar langit, tapi apakah bisa ia berbaik kepada kita. Saya jadi ingat di jl dr. Sardjito ada jalan tembus ke arah timur yang dulu ada tanah lapang, sekarang anak-anak kecil yang dulu sering saya lihat main bola di tanah lapang itu jadi kehilangan tempat bermain karena akan dibangun sebuah hotel.

Maka sudahlah entahlah habislah. biar arang jadi abu. wussshhhh...

tanah lapang itu
biarlah untuk kami
yang bergembira dalam peluh
yang tersenyum dikotornya pakaian
yang dilukai oleh tanah

jangan kau ambil
untuk tembok bisu
yang kami tidak tau
apa bisa sama menggembirakan
seperti tanah lapang yang kami punya

dengarlah
rasailah
semu itu

biarkan kami, main di tanah lapang itu...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harusnya

"Dia harus tau. cinta ini benar, bukan hanya mau biasa." setengah kebajikan dari yang utuh ini, hanya bisa dilakukan ketika anda, saya, dia memiliki pasangan yang sah. dan itu pula yang kita nanti. maukah?

Cakap

Cakap Kebanyakan hubungan diawali dengan percakapan Begitu pula Kisah satu ini Cakap Kata yang mewakili kata-kata yang aku tak cakap membuatnya keluar dari mulutku Cakap Kata sebagai muara dari maksud yang menghulu berpadu emosi haru biru yang aku terbata untuk mengatakannya Cakap aku tak pandai bercakap seperti yang biasa orang lain bisa cakap-cakap seru luar biasa Cakap sementara aku hanya pendengar menguatkan telinga untuk kamu yang cakap berretorika agar aku mengerti dan kamu lega jika kamu bersedia bercakap lebih lama dan jauh denganku.