Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

cepeto

Sampai nanti ketika Hujan tak lagi Meneteskan Duka Meretas luka Sampai hujan Memulihkan Luka... *lirik Efek Rumah Kaca - Desember

Nama dari Langit

Nama Namamu dan nama mamakku mengandung pengertian yang sama ya sama Aku hanya tidak perlu mengerti banyak tentang masa lalumu karena kau masa kini dan masa depan bukan tak mau peduli hanya mencukupkan diri yang aku tau aku harus mendengar dan mengerti tiap maksudmu maka jelaskan ke lemah linguistik ini bagaimana cara mengerti yang kau ucap, tulis di whatsapp bagaimana mas, kamu, lu itu keluar dari lisan dan tulisanmu. namamu dan nama mamakku Candra dan Nurlaila

Kamu Pasti Datang

Ya, aku tahu Kamu pasti datang Aku tunggu di sini Kemudian berjalan berarak bersamamu Ya, aku yakin Kamu pasti datang

Ada Suatu Saat

Ada suatu saat Dimana seorang laki-laki Harus menjadi pemberani Melebihi hari biasa Ada suatu saat Sang wanita lidahnya kelu Bukan karena ragu Tapi senang dan sedih baur jadi satu Ada suatu saat Bapak sang lelaki Memaksudkan apa yang hendak Dikatakan putranya Dengan terbata-bata Ada suatu saat Bapak si wanita Melihat kembali gadisnya Bertanya kesiapannya Sembari menahan air mata Ada suatu saat Jawaban kita ditunjukkan dengan nyata Tapi ujiannya memenuhi cakrawala Ada suatu saat Hari itu tiba. ☺☺

Kamu

Kamu ☺☺ akan kutemukan mengantar sepotong kue entah dimana Kamu yang akan jadi orang cerewet yang paling pendiam di semesta milik kita Kamu puisi-puisi yang ku dahulukan walau tak ku tahu terbaca olehmu tak Kamu adalah hari setelah esok jeda setelah jarak yang telah aku reka Kamu, Sampai Jumpa di Lusa jika Tuhan kenan...

Tenang Saja

Tenang saja putaran bumi enggan berjeda waktu pun tiada menanti henti dalam gulana diam tak bervisi tenang saja yang remuk akan disusun yang musnah akan kembali yang berai akan dirajut oleh benang, perekat, dan mata air tenang saja kaki tetap sedia menapak jemari setia menari nalar trus jua gembira lewat jalan lain yang baik tenang saja tidak apa-apa

Maka

Maka  Izinkanlah kami Yang kerutnya mulai nampak Untuk tetap belajar Huruf demi huruf Ajarkan kami Yang waktunya telah disisihkan pada nafkah Melafadzkan kalam-Nya Dengan baik dan benar Tunjukkan pada kami Yang energinya mulai melemah Kesabaran yang sangat Dalam mengajari kami.  Maka, dengan sangat. Kami mohon. 

Intisari Hati

Intisari ratusan hari bukan waktu yang cukup untuk tahu bahwa kamu sudah hadir disini sejak kemarin intisari begitulah namamu di tuturkan dalam pilihan lainnya utama, pertama, paling diharapkan intisari dari kehidupan orang tua dengan hati yang tulus untukmu, intisari hati yang penuh intisari gelombang makna tersibak di jejak hidupmu itulah sudut pandangku tentang intisari tentang dawai kecapi dan hati

Tiba-Tiba

tiba-tiba sekilas tiba sejenak perkenalan kamu tiba-tiba aku merasa mengenalmu padahal baru saja kau tiba disini tiba-tiba tulisan ini untukmu entah tapi begitu saja mengalir tiba-tiba saja semua hal tentang kamu aku sedikit tau tanpa aku bertanya tiba-tiba kita mengakrab padahal aku bumi dan kau langit dengan hujan tiba-tiba tumbuh cinta mekar tiba-tiba aku khawatir tidak mengikatnya dengan janji pada tuhan diam atau bertanya kau siap atau belum ku nanti

Kau Adalah...

Kau adalah... Samudera terbatas benua-benua Lautan yang disekat pulau-pulau Sungai pemisah daratan Mata air berwadah mangkuk Kau adalah... Semesta kecil Langit terlimit warna Awan terombang ambing Bumi yang terpasak ditahan dalam tarian Kau adalah... Manusia terbatas kemampuan Di pematang pikiran Terhentikan waktu menua Pesona yang akan binasa Tapi... Kau akan... Jadi semesta kecil yang terkembang Laiknya layar sang perahu Menjelajah mata air, sungai, laut dan samudera Kau akan... Hadir sebagai pesona yang mengekal Walau ragamu menua Di hatiku, apakah di hidupku? Kau adalah... Kau Nama yang tersimpan dalam amplop putih itu

Belum

"bukan engkau ya mas Yang dibersit pikiran Terbayang dalam pejaman Mengejawantah ke alam Aku maunya seperti dia Yang selevel tak ada jeda Menawan dan wibawa Apapun terjadi siap sedia." Dan belum jadi banyak Diri diri enggan menebak Celoteh tentang riak Sampai berteriak Dalam hati

Cakap

Cakap Kebanyakan hubungan diawali dengan percakapan Begitu pula Kisah satu ini Cakap Kata yang mewakili kata-kata yang aku tak cakap membuatnya keluar dari mulutku Cakap Kata sebagai muara dari maksud yang menghulu berpadu emosi haru biru yang aku terbata untuk mengatakannya Cakap aku tak pandai bercakap seperti yang biasa orang lain bisa cakap-cakap seru luar biasa Cakap sementara aku hanya pendengar menguatkan telinga untuk kamu yang cakap berretorika agar aku mengerti dan kamu lega jika kamu bersedia bercakap lebih lama dan jauh denganku.