Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015
Selamat datang hari baru. hari dimana hari saling meniadakan semua penasaran semua kekecewaan segala terbahak-bahak mengerucut jadi pengetahuan sunggingan senyum dan jaga harga diri yang bersangatan bermulakan 3 tahun awal sampai kini, mungkin nanti selamat datang akhi baru kagak ada kumpul bujang lagi karena siapa yang ingin membujang terus kumpul apalagi ya akhi fuad dan bini, eka wal istri, dini und lakine...mujahid karo fulanah... haha, yo, susunlah. sebelum kita menjelma utuh jadi tanah. kemudian bangkit untuk menjawab.

1

satu umat, satu tujuan.

Kepompong

Selamat siang kamu yang selalu ada untuk kita semua. Semoga Allah memudahkan langkah kita. Tapi kalau udah ada yang lebih baik daripada berpura-pura tersenyum meski hatinya terluka dan susah buat di lupain. Aku tidak akan pernah tahu apa yang telah terjadi pada diri sendiri dan orang lain yang lebih baik. Ngetik pake prediksi... Jadi begini hasilnya

Dulu

Tiba-tiba, arah hidup berubah Kecenderungan mengalah Oleh gagahnya ruangan kecil nan syahdu Krem ke hijau Memberi lembut Menyerut serat Apa yang disimpan

CERITA

tak setiap waktu memang ada cerita yang sampai sesuatu yang baru bukan tentang kamu atau aku entah tentang aksi atau macam kuliner yang tak ku tau rupanya hanyasaja aku merasa tertarik walau bibir mengulum senyum mata antusias itu dirimu menari lewat jemari tanpa menghakimi sudah, :)

asap

Racau anak bukit “Daun mengering Musim panas yang menyatu dengan gugur Muka tanah jadi retak Air pembasah lama tak singgah Lalu, semua bermula Terik tiada terperi Kulit membelang Daun dan kayu mengabu, mengangkasa. Aku terpaku dalam hingar bingar Mataku berbinar-binar Sembab di terpa panasnya api menjilat-jilat Melahap apa yang dapat dijilat Mungkin juga hatiku, akan dibakarnya Dalam tungku-tungku syahwat Menghitam Ya, menghitam akibat abu Dan terik matahari yang malu Mengelus lembut kulitku mengobrak abrik sesuatu Yang entah apakah itu Asap pun mengudara Singgah ke kota hingga desa Pandang pendek jeda, sesakkan dada Hujan lama tak datang Padahal oktober sudah jelang Menghembus rona harapan Tapi ia bergeming Hijau jadi hitam Yang hitam jadi hijau Yang hijau menjadi hijau yang lain, atau biru, bisa juga merah Itu kata orang Yang akupun tak paham sedikitpun Yang aku tahu, paru-paru dunia dikikis Seper...

bagaimana jika ?

bagaimana jika seruan bukanlah bagian dari diri kita ia hanyalah sebuah perjanjian sementara yang bila telah usai di waktunya lalu kita berpaling atau ia hanya syahwat pemenuh kita untuk suatu hal yang bukan esensinya. bagaimana jika seruan kita bukan untuk-Nya tapi untuk manusia yang lain, yang melalaikan kita. bagaimana jika seruan hanya kedok kita mengambil yang sedikit melepas yang banyak bagaimana jika

Selamat

pagi... dengan pesonanya membuncahkan rasa di suatu pagi, aku menoleh ke kiri dan aku lihat kamu duduk tersenyum

Lirik

 TUHAN MAHA ROMANTIS Lagu  : Henov Lirik   : Azhar Nurun Ala & Henov Kubicara pada udara yang tak pernah pahami rasa Rindu setengah mati mendera hati Kubicara pada bulan purnama yang tak pernah selalu ada Seperti dirimu yang jauh dariku Kini semua t’lah usai Jarak telah luruh Rindu telah kita sulap menjadi temu Tuhanlah yang Maha Romantis Tuliskan kisah fantastis Pertemukan kita lalu bersemilah cinta Tuhanlah yang Maha Romantis Tuliskan kisah fantastis Menyatukan gambar kita dalam bingkai yang apa adanya Ketika ekspresi rindu adalah doa Tak ada cinta yang tak mulia Ketika ekspresi rindu adalah doa Semua cinta adalah jalan surga

Ada Saatnya

Ada Saatnya... ada saatnya jari kita saling memilin mesra erat tak terkira seakan lama tak bersua ada saatnya kepalamu rebah di pundakku lalu kau ceritakan harimu aku setia mendengarmu ada saatnya aku berbaring di pangkuan berkisah pagi yang cerah siang yang gagah senja yang menjingga ada saatnya kita saling menatap lamat lamat memperhatikan lekat lekat hingga pesan hati sampai tepat ada saatnya dimana kita saling tersenyum tanpa saling tahu karena kita malu "siapakah aku?" ada saatnya di waktu itu entah... bumi, menghadap bulan membelakangi matahari. 20.53 pm kotak kecil. do RE mi fa sol la si do :)

Done dan Not Yet (graduation)

UPN Yk dan remah2 kecil dakwah kampus ini. (sebelumnya maaf kalo lupa, mohon diingatkan) -versi angkatan 07 sampek saat ni ditulis- -Done- Andri, si die uda jadi dosen d3 tekim (- pengabdian, dan jadi nikah (blm tau kapan) dan mengusaha fuad, udah balik mbuh kerjo apa, ngurus dakwah kampus sono (bpp) eka, malah kerja di lppm unmu* di samarinda devi a.k.a putra, lagi usaha sosro kompeni pesan wa pesti aer minum sampek mateng ibnu, masih betah aja behirang di sono, sayang udah laku...wkekekek roi(s), penganten anget ni, baru keluar dari ngoven :v aji, ni lagi di selatan bpp, kagak tau dah ketemu fuad ato belon ozin, masi terikat kontrak di tengah kalimantan (asal g lengket sama org utan aja) hehehe alan, resign...sekarang sedang mengamankan jogja....(amaaaaan aja akheee) imam p. ni org ADS, untouchable dah...hahaha alam rifqi, kerja diperminyakan, bagian nyemen...(herp aja kalah) nopel....dimana kau akhi? betano, lagi berubah jadi pace dia...proyekkan ghi...

prolog

Awan by mbak can cts Begitu uniknya hati manusia Seperti langit Ketika mentari cinta menyapa, malu-malu ia tersenyum dengan semburat kuningnya, hingga diam2 berbisik diantara dedaunan pohon prasangka. Dan embun iman memintanya tetap tenang, sembari menguapkan fase  gelisahnya lalu kembali pada langit hati.  Tertahanlah ia pada langit hati itu. Semoga kekal abadi di sana. Mentari itu tak hanya mampu menguapkan embun saja Lautan amarah pun bisa saja diubahnya, dikembalikannya pada langit hati, dan terkumpul menjadi awan kedamaian Dan awan itu, suatu hari nanti akan turun ke bumi, yg tandus krn org2 rakus, Semoga semakin banyak embun yg bertemu mentari, semakin luas lautan yang tersentuh cahaya-Nya

manusia

kadang saya menerka - nerka bagaimana jika rasa itu mempunyai rupa pahit, asin, asam, manis dengan sedikit kemampuan imaji saya tapi saya lebih penasaran bagaimana dengan cinta?
cintanimbus (awan, hujan, putih, hitam, cinta) pernah melihat awan? -pernah                                                                     pernah menyentuhnya? atau bahkan berbaring diatasnya... awan dalam takdirnya adalah bentuk cinta, entah menyendiri atau gumpalan, entah hitam atau putih, entah hujan atau tidak. menari sesukanya saat sendiri, dipandu angin kemanapun angin mau, kemudian menghimpunkannya. jadi saf yang rapat saat menggumpal, menaungi dari matahari bersinaran, lalu bergerak ke padang tandus. ketika putih ia indah, lukisan keagungan-Nya yang polos tak bercela, inginnya hati sebersih itu. hitamnya kadang mencekam, kadang melegakan dari sengitnya panas menerjang tubuh kita, lalu hujan menyenandungkan kenangan. darinya terkadang muncul hujan, Allahumma shayyiban nafi'an :). dan tidak...
Artiku di matamu by casa aku yang setia mendengar kisahmu aku lah tempat kamu berbagi aku yang setia menunggumu aku lah yang slalu ada di dekatmu aku yang slalu mencintaimu aku yang slalu merindu saat kau jauh aku yang slalu tersenyum saat bahagiamu aku yang slalu menangis saat kau bersedih apakah aku tempat akhir kau berlabuh? apakah aku pendamping hidupmu? apakah aku seseorang yang aku tunggu? apakah aku yang slalu kau rindu? aku yang slalu mengharap hadirmu aku yang slalu berdoa untukmu dalam munajatku aku yang bernyanyi lagu cinta untukmu aku yang tak henti memikirkanmu setiap hela nafasku, setiap detik waktuku apakah aku mentari di pagimu? apakah aku rembulan di malammu? apakah aku awan di terikmu? apakah aku pelangi di hujanmu? hehehe, piye...saya jadi bingung sendiri sama pertanyaan2 itu. paling udah dijawab sendiri sama yg buat. ya gak? ini buatan temen, katanya mau dibikin lagu...
JANGAN APA ADANYA "... jangan cintai aku, apa adanya jaaaaaaaangaan... tuntutlah sesuatu, biar kita jalan ke depan..." (Tulus - Jangan Cintai Aku Apa Adanya) begitulah kisah ditengahnya, di awal tidak apa namun di akhir banyak friksi. maka, sejak awal...pasanglah target kebaikan sebanyak mungkin dan jelaskan sedetailnya pada partner kita. jangan sampai... "...kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama, tak bisa bersatu..."