Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2015

Done dan Not Yet (graduation)

UPN Yk dan remah2 kecil dakwah kampus ini. (sebelumnya maaf kalo lupa, mohon diingatkan) -versi angkatan 07 sampek saat ni ditulis- -Done- Andri, si die uda jadi dosen d3 tekim (- pengabdian, dan jadi nikah (blm tau kapan) dan mengusaha fuad, udah balik mbuh kerjo apa, ngurus dakwah kampus sono (bpp) eka, malah kerja di lppm unmu* di samarinda devi a.k.a putra, lagi usaha sosro kompeni pesan wa pesti aer minum sampek mateng ibnu, masih betah aja behirang di sono, sayang udah laku...wkekekek roi(s), penganten anget ni, baru keluar dari ngoven :v aji, ni lagi di selatan bpp, kagak tau dah ketemu fuad ato belon ozin, masi terikat kontrak di tengah kalimantan (asal g lengket sama org utan aja) hehehe alan, resign...sekarang sedang mengamankan jogja....(amaaaaan aja akheee) imam p. ni org ADS, untouchable dah...hahaha alam rifqi, kerja diperminyakan, bagian nyemen...(herp aja kalah) nopel....dimana kau akhi? betano, lagi berubah jadi pace dia...proyekkan ghi...

prolog

Awan by mbak can cts Begitu uniknya hati manusia Seperti langit Ketika mentari cinta menyapa, malu-malu ia tersenyum dengan semburat kuningnya, hingga diam2 berbisik diantara dedaunan pohon prasangka. Dan embun iman memintanya tetap tenang, sembari menguapkan fase  gelisahnya lalu kembali pada langit hati.  Tertahanlah ia pada langit hati itu. Semoga kekal abadi di sana. Mentari itu tak hanya mampu menguapkan embun saja Lautan amarah pun bisa saja diubahnya, dikembalikannya pada langit hati, dan terkumpul menjadi awan kedamaian Dan awan itu, suatu hari nanti akan turun ke bumi, yg tandus krn org2 rakus, Semoga semakin banyak embun yg bertemu mentari, semakin luas lautan yang tersentuh cahaya-Nya

manusia

kadang saya menerka - nerka bagaimana jika rasa itu mempunyai rupa pahit, asin, asam, manis dengan sedikit kemampuan imaji saya tapi saya lebih penasaran bagaimana dengan cinta?
cintanimbus (awan, hujan, putih, hitam, cinta) pernah melihat awan? -pernah                                                                     pernah menyentuhnya? atau bahkan berbaring diatasnya... awan dalam takdirnya adalah bentuk cinta, entah menyendiri atau gumpalan, entah hitam atau putih, entah hujan atau tidak. menari sesukanya saat sendiri, dipandu angin kemanapun angin mau, kemudian menghimpunkannya. jadi saf yang rapat saat menggumpal, menaungi dari matahari bersinaran, lalu bergerak ke padang tandus. ketika putih ia indah, lukisan keagungan-Nya yang polos tak bercela, inginnya hati sebersih itu. hitamnya kadang mencekam, kadang melegakan dari sengitnya panas menerjang tubuh kita, lalu hujan menyenandungkan kenangan. darinya terkadang muncul hujan, Allahumma shayyiban nafi'an :). dan tidak...
Artiku di matamu by casa aku yang setia mendengar kisahmu aku lah tempat kamu berbagi aku yang setia menunggumu aku lah yang slalu ada di dekatmu aku yang slalu mencintaimu aku yang slalu merindu saat kau jauh aku yang slalu tersenyum saat bahagiamu aku yang slalu menangis saat kau bersedih apakah aku tempat akhir kau berlabuh? apakah aku pendamping hidupmu? apakah aku seseorang yang aku tunggu? apakah aku yang slalu kau rindu? aku yang slalu mengharap hadirmu aku yang slalu berdoa untukmu dalam munajatku aku yang bernyanyi lagu cinta untukmu aku yang tak henti memikirkanmu setiap hela nafasku, setiap detik waktuku apakah aku mentari di pagimu? apakah aku rembulan di malammu? apakah aku awan di terikmu? apakah aku pelangi di hujanmu? hehehe, piye...saya jadi bingung sendiri sama pertanyaan2 itu. paling udah dijawab sendiri sama yg buat. ya gak? ini buatan temen, katanya mau dibikin lagu...
JANGAN APA ADANYA "... jangan cintai aku, apa adanya jaaaaaaaangaan... tuntutlah sesuatu, biar kita jalan ke depan..." (Tulus - Jangan Cintai Aku Apa Adanya) begitulah kisah ditengahnya, di awal tidak apa namun di akhir banyak friksi. maka, sejak awal...pasanglah target kebaikan sebanyak mungkin dan jelaskan sedetailnya pada partner kita. jangan sampai... "...kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama, tak bisa bersatu..."