Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2013

Puisi Aku #4

KAMU MANUSIA APA ? Apa sebenarnya kamu? Dari bahan apa kamu? Aku heran, sungguh heran Sedikit dari banyak Ketika yang lain memulai tidur Kamu memaksimalkan waktu Untuk menyelesaikan ladang amalmu Gila, manusia macam apa kamu? Ketika manusia lain dengan mudah membeli Kamu setia menunggu Dengan kelaparan Hei, kamu itu apa? Lewat tengah malam Manusia lain sebagian terlelap Sebagian lain berhura-hura Sementara kamu, duduk Bersila atau bersimpuh Memanjatkan semua harapan Manusia lemah di hadapan Tuhannya Aku benar-benar heran Dia berbeda dengan mereka 1 tahun terakhir Tahun tarbiyah buat aku Dari Allah lewat dia Belajar banyak Tentang kenapa manusia Ada di bumi ini. Trima kasih buat dia

Puisi Aku #3

AKU MALU PADA ALLAH   Aku malu pada Allah Aku malu untuk memohon Aku malu untuk berharap Ya, aku malu Memohonkan kamu Mengharapkan kamu Hehe, maaf aku berkhayal Aku mungkin hanya bermimpi Ya, maafkan rasa ngigauku Aku tidak ingin membuat kamu merasa Bahwa kamulah dia Tenang saja, siapapun kamu Kita mungkin setara Aku yakin itu Tinggal bagaimana kita Saling memantaskan diri Untuk Allah Hanya untuk Allah Maka akhirnya Allah yang membuat kita saling pantas untuk menerima

Menulislah…

Menulislah, karena ia adalah buah pikiranmu, karena ia adalah ekspresi dirimu. Menulis itu kreativitas unik karena ia bisa sangat berharga atau hanya sebuah sampah tak penting dan tak jelas. Coba lah tengok twit dan status gak jelas dari temen-temen kita. Ya dari sekian banyak itu pasti biasanya sih ya status gak penting dan gak ada ilmunya. Sudah berapa banyak yang ditulis di socmed padahal bisa dijadikan sebuah buku. Yah, itu realita sekarang kalo menulis itu unik, berharga atau tidak itu sih terserah yang membaca ya. Dari sini saya berharap kita semua termotivasi untuk lebih produktif dalam menulis-menulis tentang kebaikan. Menulis itu mengalir seperti kejujuran atau mengalir layaknya kebohongan. Disinilah peran hati kita, disinilah peperangan jiwa kita, apakah menginginkan sebuah sensasi atau kebenaran. Sungguh karena tulisan ini akan terbaca oleh semua orang dan mungkin saja ada yang mengiyakan. Begitulah menulis kawan, ia sebuah pertaruhan mahal. Entah jiwa atau nafsu y...

Kuncup Mekar Jadi Bunga

Teruntuk kalian, para pengampu dakwah kampus kita setelah masa saya dan teman-teman yang lain. Kami mencintai kalian karena Allah, dan kita berpisah pun karena-Nya. Jiwa kita yang terpaut dalam satu aqidah ini, ikatan-ikatan ukhuwah yang kita bangun telah menghimpunkan kita dalam satu fasa paling berharga dalam perjalanan hidup kita hingga maut memindahkan kita. Ikhwah fillah, sungguh dalam perjalanan dakwah ini kita ibarat kuncup-kuncup pada awalnya. Menghisap segala kebaikan dari Allah lewat bumi dan langit. Yang bertumbuhkembang dalam segenap potensi cinta-cinta baik. Kita adalah kuncup-kuncup yang tak sabar untuk mengeluarkan segala daya upaya dari apa yang kita serap selama ini. Dan ketika perlahan, kuncupmu mekar jadi bunga, aku jadi saksi mu berhasil mempesona apa yang ada di sini, hari ini. Kau adalah bunga, bermekaran serempak, membuat taman jadi indah. Pesonamu adalah pembeda dari bunga lain karena kau adalah bunga yang harum. Menyebarkan bau sedap ke segala penjuru, ...

Ayo, Mari Berhenti Sejenak

Ya, mari kita berhenti sejenak saudaraku. Ku lihat peluh mu begitu deras dan sekujur tubuhmu terluka. Sepanjang perjalanan dakwah kita yang berat dan melelahkan ini, ku lihat senyum keikhlasanmu, ku lihat sikap tegarmu, ku rasakan kasih sayang lembutmu. Aku mengerti kamu masih kuat menapaki jalan dakwah yang terjal ini. Tapi aku ingin kita berhenti sejenak, bukan untuk menyerah. Sekali-kali tidak untuk menyerah saudaraku. Aku mau kita sejenak duduk bersama mengevaluasi , memperhatikan sekeliling kita, mengetahui seberapa jauh perjalanan kita dan jarak yang akan kita tempuh, memeriksa bekal, apakah ada orang selain kita yang melewati jalan yang kita lalui, dan memperbarui energi. Saudaraku, selama perjalanan kita, adakah kamu melihat sekeliling. Melihat perubahan kearah yang baik dari mereka ataukah kita hanya sekedar awan yang menaungi kemudian pergi dalam sekejap. Kalau begitu, mari kita perbaiki dan maksimalkan potensi kita demi perubahan itu. Mengubah negeri yang katanya Iro...