Langsung ke konten utama

asap


Racau anak bukit

“Daun mengering
Musim panas yang menyatu dengan gugur
Muka tanah jadi retak
Air pembasah lama tak singgah

Lalu, semua bermula
Terik tiada terperi
Kulit membelang
Daun dan kayu mengabu, mengangkasa.

Aku terpaku dalam hingar bingar
Mataku berbinar-binar
Sembab di terpa panasnya api menjilat-jilat
Melahap apa yang dapat dijilat
Mungkin juga hatiku, akan dibakarnya
Dalam tungku-tungku syahwat

Menghitam
Ya, menghitam akibat abu
Dan terik matahari yang malu
Mengelus lembut kulitku
mengobrak abrik sesuatu
Yang entah apakah itu

Asap pun mengudara
Singgah ke kota hingga desa
Pandang pendek jeda, sesakkan dada

Hujan lama tak datang
Padahal oktober sudah jelang
Menghembus rona harapan
Tapi ia bergeming

Hijau jadi hitam
Yang hitam jadi hijau
Yang hijau menjadi hijau yang lain, atau biru, bisa juga merah
Itu kata orang
Yang akupun tak paham sedikitpun

Yang aku tahu, paru-paru dunia dikikis
Seperti perokok yang mengikis paru-parunya
Setiap waktu
Hewan liar kehilangan rumah
Hilir mudik di berantas di desa dan kota
Padahal...”

“Nak, bangun, sudah siang. Kamu meracau lagi
Iyakah, kataku.
Iya.”







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harusnya

"Dia harus tau. cinta ini benar, bukan hanya mau biasa." setengah kebajikan dari yang utuh ini, hanya bisa dilakukan ketika anda, saya, dia memiliki pasangan yang sah. dan itu pula yang kita nanti. maukah?

Cakap

Cakap Kebanyakan hubungan diawali dengan percakapan Begitu pula Kisah satu ini Cakap Kata yang mewakili kata-kata yang aku tak cakap membuatnya keluar dari mulutku Cakap Kata sebagai muara dari maksud yang menghulu berpadu emosi haru biru yang aku terbata untuk mengatakannya Cakap aku tak pandai bercakap seperti yang biasa orang lain bisa cakap-cakap seru luar biasa Cakap sementara aku hanya pendengar menguatkan telinga untuk kamu yang cakap berretorika agar aku mengerti dan kamu lega jika kamu bersedia bercakap lebih lama dan jauh denganku.