Langsung ke konten utama

Kuncup Mekar Jadi Bunga


Teruntuk kalian, para pengampu dakwah kampus kita setelah masa saya dan teman-teman yang lain. Kami mencintai kalian karena Allah, dan kita berpisah pun karena-Nya. Jiwa kita yang terpaut dalam satu aqidah ini, ikatan-ikatan ukhuwah yang kita bangun telah menghimpunkan kita dalam satu fasa paling berharga dalam perjalanan hidup kita hingga maut memindahkan kita.
Ikhwah fillah, sungguh dalam perjalanan dakwah ini kita ibarat kuncup-kuncup pada awalnya. Menghisap segala kebaikan dari Allah lewat bumi dan langit. Yang bertumbuhkembang dalam segenap potensi cinta-cinta baik. Kita adalah kuncup-kuncup yang tak sabar untuk mengeluarkan segala daya upaya dari apa yang kita serap selama ini. Dan ketika perlahan, kuncupmu mekar jadi bunga, aku jadi saksi mu berhasil mempesona apa yang ada di sini, hari ini.
Kau adalah bunga, bermekaran serempak, membuat taman jadi indah. Pesonamu adalah pembeda dari bunga lain karena kau adalah bunga yang harum. Menyebarkan bau sedap ke segala penjuru, menggiring lebah menemuimu untuk saling berbagi. Karena kau memberi cinta, kau berbagi ilmu, dan kau adalah bunga.
Seperti itu bunga, dan aku pun berharap kamu jadi bunga. Yang tak sekedar nyaman dipandang, namun juga memberi banyak kemanfaatan. Maka, di sinilah ladang kita beramal membagi cinta yang kita punya, merawat kebaikan-kebaikan jiwa. Aku berharap banyak pada kamu, memekarkan kuncup-kuncup bunga di kampus kita ini.
Dalam segenap cinta dan rasa kantuk.
Bumi Allah
22.21 WIB jogja

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harusnya

"Dia harus tau. cinta ini benar, bukan hanya mau biasa." setengah kebajikan dari yang utuh ini, hanya bisa dilakukan ketika anda, saya, dia memiliki pasangan yang sah. dan itu pula yang kita nanti. maukah?

Cakap

Cakap Kebanyakan hubungan diawali dengan percakapan Begitu pula Kisah satu ini Cakap Kata yang mewakili kata-kata yang aku tak cakap membuatnya keluar dari mulutku Cakap Kata sebagai muara dari maksud yang menghulu berpadu emosi haru biru yang aku terbata untuk mengatakannya Cakap aku tak pandai bercakap seperti yang biasa orang lain bisa cakap-cakap seru luar biasa Cakap sementara aku hanya pendengar menguatkan telinga untuk kamu yang cakap berretorika agar aku mengerti dan kamu lega jika kamu bersedia bercakap lebih lama dan jauh denganku.