Ya, mari kita berhenti sejenak saudaraku.
Ku lihat peluh mu begitu deras dan sekujur tubuhmu terluka. Sepanjang
perjalanan dakwah kita yang berat dan melelahkan ini, ku lihat senyum
keikhlasanmu, ku lihat sikap tegarmu, ku rasakan kasih sayang lembutmu. Aku mengerti
kamu masih kuat menapaki jalan dakwah yang terjal ini.
Tapi aku ingin kita berhenti sejenak, bukan
untuk menyerah. Sekali-kali tidak untuk menyerah saudaraku. Aku mau kita
sejenak duduk bersama mengevaluasi, memperhatikan
sekeliling kita, mengetahui seberapa jauh perjalanan kita dan jarak yang akan
kita tempuh, memeriksa bekal, apakah ada orang selain kita yang melewati jalan
yang kita lalui, dan memperbarui energi.
Saudaraku, selama perjalanan kita, adakah
kamu melihat sekeliling. Melihat perubahan kearah yang baik dari mereka ataukah
kita hanya sekedar awan yang menaungi kemudian pergi dalam sekejap. Kalau
begitu, mari kita perbaiki dan maksimalkan potensi kita demi perubahan itu.
Mengubah negeri yang katanya Ironisasi menjadi “sepenggal Firdaus”.
Taukah kamu jarak yang sudah kita tempuh
selama perjalanan ini? Ayolah, kita harus tau sudah berapa jarak yang kita
tempuh dan berapa lama kita berjalan. Trus, bagaimana strategi kita selanjutnya
di perjalanan selanjutnya? Mari kita berhenti sejenak.
Bekal kita cukup? Cukup untuk kita dan
cukup untuk kita beri pada yang lain? Karena bekal ini menjadi sumber referensi
kita berdakwah, maka perbanyaklah bekal kita kawan. Untuk itulah kita berhenti
sejenak, memeriksa bekal.
Aku perhatikan tidak banyak memang orang
yang melewati jalan yang kita lalui ini, karena terjalnya. Mari kita buka jalan
ini selebar-lebarnya kawanku, agar lebih banyak saudara kita lebih dan lebih
banyak melewati jalan ini. Mari kita berhenti sejenak kawanku, memperbarui
energi jasad, fisik, dan ruh kita, agar siap saat melanjutkan perjalanan ini
dan lebih maksimal.
Ya, mari kita berhenti sejenak.
(terinspirasi dari bagian “mari berhenti
sejenak” buku Menikmati Demokrasi oleh Ust. M. Anis Matta)
Komentar
Posting Komentar