Langsung ke konten utama

Menulislah…


Menulislah, karena ia adalah buah pikiranmu, karena ia adalah ekspresi dirimu.
Menulis itu kreativitas unik karena ia bisa sangat berharga atau hanya sebuah sampah tak penting dan tak jelas. Coba lah tengok twit dan status gak jelas dari temen-temen kita. Ya dari sekian banyak itu pasti biasanya sih ya status gak penting dan gak ada ilmunya. Sudah berapa banyak yang ditulis di socmed padahal bisa dijadikan sebuah buku. Yah, itu realita sekarang kalo menulis itu unik, berharga atau tidak itu sih terserah yang membaca ya. Dari sini saya berharap kita semua termotivasi untuk lebih produktif dalam menulis-menulis tentang kebaikan.
Menulis itu mengalir seperti kejujuran atau mengalir layaknya kebohongan. Disinilah peran hati kita, disinilah peperangan jiwa kita, apakah menginginkan sebuah sensasi atau kebenaran. Sungguh karena tulisan ini akan terbaca oleh semua orang dan mungkin saja ada yang mengiyakan. Begitulah menulis kawan, ia sebuah pertaruhan mahal. Entah jiwa atau nafsu yang menang, ia berpengaruh. Benar atau salah.
Menulis itu mengukir cinta, karena ia bisa merepresentasi jiwamu, memuat segala persona dan persona. Menumbuhkan semua energy positif dalam dirimu, dan keoptimisan. Ia menunjukkan manisnya hidupmu, menuangkan taman dan pelangi bagi pembaca. Ia yang dibentuk dengan cinta.
Maka, mulai hari ini, menulislah. Karena ceritamu tak akan selalu sama tiap hari dengan segala rutinitas yang stagnan. Menulislah, karena itulah pembeda antara penginspirasi dan terinspirasi.
Jujur, hati yang bersih, cinta itu adalah modal awal menulis.

Selamat menulis, dengan cinta.
Karena tanpa cinta, tulisan itu tanpa rasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harusnya

"Dia harus tau. cinta ini benar, bukan hanya mau biasa." setengah kebajikan dari yang utuh ini, hanya bisa dilakukan ketika anda, saya, dia memiliki pasangan yang sah. dan itu pula yang kita nanti. maukah?

Cakap

Cakap Kebanyakan hubungan diawali dengan percakapan Begitu pula Kisah satu ini Cakap Kata yang mewakili kata-kata yang aku tak cakap membuatnya keluar dari mulutku Cakap Kata sebagai muara dari maksud yang menghulu berpadu emosi haru biru yang aku terbata untuk mengatakannya Cakap aku tak pandai bercakap seperti yang biasa orang lain bisa cakap-cakap seru luar biasa Cakap sementara aku hanya pendengar menguatkan telinga untuk kamu yang cakap berretorika agar aku mengerti dan kamu lega jika kamu bersedia bercakap lebih lama dan jauh denganku.